Kartini dan Gerakan Pelajar Putri

Oleh : Icha Aulaul Muhimmah

       Berbicara tentang kartini ia selalu menjadi perbincangan terlaris bagi perempuan dimana ia sang revolusioner perempuan yang mengesampingkan keinginan pribadi demi terwujudnya suatu keadilan meski di anggap melawan keluarga, adat dan agamanya. Gebrakan kartini inilah yang menjadi tolak ukur sebuah gerakan yang sangat berani dan patut menjadi acuan para pelajar masa kini. Berbicara tentang remaja era millenium lebih candu akan gadget dan media sosial dari pada membaca buku sejarah dan berdiskusi,  remaja millenial seakan dirayu akan perubahan zaman yang seharusnya bisa menjadi kemajuan pola pikir dan kesuksesan tapi harus di runtuhkan oleh ketidak sadaran dirinya sendiri.

      Seorang prempuan seperti yang di gagas sosok kartini ialah suatu hal yang bukan tabu lagi di era millenium, gerakan feminis pun sudah mudah di temui di berbagai tempat namun kurangnya kesadaran akan sebuah kesetaraan menjadikan sistem patriarki masih mudah ditemukan di masyarakat kita, dimana kita lebih tunduk akan sistem dan sebuah ketidakadilan.

        Bias dari gebrakan kartini pun akhirnya muncul sebuah organisasi yang bersifat formal muncul pada tahun 1912 yang bernama Putri Mardika di Jakarta. Organisasi ini berdiri untuk memperjuangkan pendidikan untuk perempuan, mendorong perempuan agar tampil di depan umum, membuang rasa takut, dan mengangkat perempuan ke kedudukan yang sama seperti laki-laki. Dengan berdirinya organisasi perempuan pada tahun 1912, singkat cerita Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) juga menjadi bagian dari gerakan organisasi perempuan yang lahir tahun 1955 kala itu dan salah sampai sekarang pun IPPNU masih eksis dan menjadi salah satu wadah gerakan feminisme untuk menampung aspirasi pelajar putri, santri putri maupun mahasiswi.

       Berbicara tentang zaman yang sudah maju tantangan IPPNU pun semakin menjadi apalagi degradasi moral sangat mudah kita jumpai, dan disinilah IPPNU menjawab segala keresahan masyarakat yang mungkin takut akan sebuah fenomena tersebut. Gebrakan IPPNU pun bisa kita lihat dari segala macam kegiatan nya yang bermacam-macam bukan hanya monoton dalam sebuah kegiatan keagamaan, meskipun IPPNU adalah organiasi berbasis keagamaan akan tetapi yang ippnu suguhkan ialah apa yang dibutuhkan masyarakat khususnya pelajar putri di era millenium, terbukti dengan 63 tahun IPPNU masih bisa eksis dengan semangatnya mengawal pelajar putri Nu Menjadi organisasi yang keren dan modern.

       Jiwa kepemimpinan,semangat dan rasa ingin tahu kartini adalah gambaran sebuah acuan bagi kita para pelajar putri agar semakin semangat dalam berorganisasi, karena di tangan kita lah lima atau sepuluh bahkan dua puluh tahun lagi nasib bangsa ini. Lewat IPPNU pula diharapkan nanti akan muncul pemimpin-pemimpin perempuan, ketua bukan lagi identik dengan laki-laki saja; tapi perempuan juga punya hak untuk berada di posisi puncak organisasi apapun itu seperti yang di harapkan ibu Raden Ajeng Kartini.

      Terbukti dengan Juara 1 organisasi pemuda yang disabet oleh IPPNU menjadi cambuk tersendiri bagi kita, untuk selalu semangat dalam belajar berjuang dan bertaqwa. Tetap semangat rekanitaku, kita buktikan pada dunia bahwa perempuan juga layak jadi pemimpin dan itu semua kita mulai dari organisasi tercinta kita, IPPNU..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pimpinan Pelajar NU Se Jombang, Adakan Konsolidasi Ikatan

Santri Kreatif Jaman Now

Generasi Kartini Milenial: Refleksi Pemikiran Lintas Batas Kaum Muda