Generasi Kartini Milenial: Refleksi Pemikiran Lintas Batas Kaum Muda

Oleh: Mohamad Asep Irwan

R.A. Kartini merupakan sebuah sosok fenomenal di Indonesia. Sosok ini bukan hanya fenomenal akan tetapi juga teristimewa. Meski bukan lahir di era milenial akan tetapi pemikiranya merupakan sebuah gebrakan besar dizamanya. Terlebih lagi di usia yang sangat muda akan tetapi mampu memberikan semangat pemikiran lintas batas baik waktu maupun geografis. Karena perananya tersebut maka diabadikanlah tanggal lahirnya sebagai hari Kartini dengan jargon Emansipasi wanitanya.

Kartini lahir di Jepara pada 21 April tahun 1879 dari keluarga bangsawan dan meninggal pada usia 25 tahun saat melahirkan anaknya. Dalam pendidikan, kartini hanya lulus pada sekolah tingikat dasar karena budaya pada saat itu yang sangat membatasi gerak dari wanita sehingga dia harus di pingit(dibatasi untuk beraktivitas di luar rumah) meski anak seorang bangsawan. Meskipun dipingit, semangatnya untuk mencari pengetahuan tidaklah pudar. Dia sangat gemar membaca buku dan majalah dari berbagai sunber sehingga sedikit banyak mengetahui dunia luar. Selain itu ia juga mempelajari bahasa belanda sehingga mampu berkomunikasi baik dalam berbahasa belanda.

Gagasan kartini tentang emansipasi wanita mulai muncul ketika ia sering berbalas surat dengan sahabat penanya di negeri belanda Rosa Abendanon, dan Estelle "Stella" Zeehandelaar. Dalam suratnya tersebut kartini banyak mengisahkan kondisi keseharianya yang sangat terbats terutama untuk wanita karena budaya patriarki saat itu. Ia mulai melakukan kritik sosial terhadap keadaanya tersebut dngan gagasan kesetaraan terutama pada wanita supaya mempunyai kesempatan dan pemenuhan hak yang sama dengan laki laki. Selain itu banyak juga pemikiran kartini lainya seperti tentang agama, sistem feodalisme, budaya masyarakat jawa dan lain sebagainya yang dituangkan dalam surat suratnya tersebut yang menjadikan sebuah inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin menonjolkan bagaimana pemikiran emansipasi Kartini, akan tetapi lebih kepada sebuah refleksi pemikiran sikap kartini terhadap keadaan yang ada. Yang perlu disoroti pada sosok kartini selain dia seorang perempuan adalah usianya yang masih sangat muda. Hal ini haruslah menjadi semangat perubahan yang ada pada generasi muda milenial terutama bagi para pelajar yang merupakan cikal bakal generasi emas yang akan datang. Tantangan kartini pada masanya adalah kebebasan karena dalam keadaan dijajah dan budaya yang sangat membatasi untuk bergerak. Akan tetapi meski penuh keterbatasan tidak menjadikan halangan dalam memperoleh pengetahuan, akan tetapi hal tersebut menjadikan sebuah pandangan kedepan lebih maju lagi.

Pada era milenial ini memang sudah tidak dalam penjajahan dan budaya sudah lebih bebas tanpa ada pembatasan dalam ruang gerak. Akan tetapi hal inilah yang menjadi ancaman bagi generasi ini. Kebebasan dan kemajuan tekhnologi tersebut lah yang menjadi tolak ukur bagi generasi ini. Ketika mampu menggunakan dengan baik maka hasilnya adalah kretifitas dan prestasi. Tapi ketika tidak mampu, makayang terjadi adalah sebaliknya, akan menjadikan generasi ini menjadi generasi yang hancur akan tekhnologi tersebut.

Dari kisah kartini tersebut kita mendapatkan ibrah bahwa generasi muda harus banyak membaca terutama membaca keadaan supaya mapu merancang masa depanya. Mereka harus mampu menggunakan kecanggihan tekhnologi dan segala kemudahan untuk bisa merancang masa depan mereka. Karena bila hal itu tidak mampu dilakukan maka mereka akan tergilas oleh zaman. Hal ini karena zaman yang selalu dinamis tetapi generasi milenial diam saja tidak bergerak. Maka semangat perubahan dan terus berfikir kedepan adalah utama untuk mewujudkan generasi cemerlang dimasa yang akan datang.

Peran tersebut haruslah segera diambil oleh IPNU IPPNU karena posisinya yang sentral sebagai wadah kaderisasi pelajar nusantara. IPNU IPPNU yang menjadi wadah pelajar pelajar harus mampu memberikan  pemikiran dan gagasan baru untuk merancang generasi milenial kedepan mampu bertahan di zamanya. Peran sentral yang mampu diambil adalah menyiapkan kader kader pelajar baik secara kapasitas maupun kapabilitas dalam segala kemampuan dan pengetahuan. Pemikiran kartini bukan hanya emansiaspasi wanita akan tetapi sebuah semangat gerakan kaum muda untuk mampu menjawab tantangan zaman dan lebih peka dengan keadaan supaya mampu memberi solusi bagi permasalahan yang ada pada zamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pimpinan Pelajar NU Se Jombang, Adakan Konsolidasi Ikatan

Santri Kreatif Jaman Now